Terbang Layang
Sejarah Terbang Layang di Indonesia
Sejarah Terbang Layang di Indonesia
Cikal bakal berkembangnya olah raga terbang layang di Indonesia diawali di Pangkalan Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta tahun 1946-1947 ketika Nurtanio dan Wiweko Supono merintis pembuatan pesawat luncur jenis Zogling yang ditandai dengan huruf NWG (Nurtanio Wiweko Glider). Pesawat tersebut telah digunakan oleh peminat olah raga untuk Terbang Layang.
Pada 1951, seorang militer Belanda bernama CWA Oyens, bergabung dengan Netherlands Militery Mission di Indonesia menyelenggarakan sekolah untuk perwira teknik bagi TNI AU. Menurut Oyens karena sebagian besar kadetnya kurang mengetahui pengertian tentang penerbangan, maka untuk pengetahuan perkenalan bagi siswa dibuatlah pesawat layang dari rencana bangun design “Grunau Baby” dari Fokker Amsterdam. Dua buah pesawat layang yang berhasil dibuat pertama di Indonesia itu diberi nama “KAMPRET” yang pertama kali mengudara pada 19 Mei 1952.
Perkembangan pembuatan dan latihan terbang layang tersebut diikuti pula dengan terbentuknya organisasi-organisasi olahraga udara seperti tanggal 17 Mei 1952, telah terbentuk panitia penerbangan olahraga nasional Jakarta diketuai Erie Sudewo. Disamping itu, terselenggara pula latihan-latihan terbang layang di Kalijati dan Halim Perdanakusuma oleh penerbang Skadron Udara 3, diantaranya : Rusmin Nuryadin, Ramli Sumadi, I. Dewantoro, Hapit dan Leo Wattimena dengan pesawat Schweizer 1-23 dan pesawat penarik Auster. Karena lahir peristiwa pertama di Indonesia yaitu penyematan Badge C pada tanggal 10 November 1953 di Husein Sastra Negara dan demonstrasi pesawat layang oleh putra –putra Indonesia.
Demi pemantapan pembinaan terbang layang di Indonesia, selanjutnya pada tahun 1958 di dirikan pusat pendidikan terbang layang bertempat di Pangkalan Udara Adi Sutjipto, karena Pangkalan Udara Adi Sutjipto mempunyai kesibukan-kesibukan yang cukup tinggi, maka pusat pendidikan terbang layang (PPTL) dipindahkan ke Pangkalan Udara Adi Soemarmo/ Panasan. Kemudian setelah pendidikan berjalan sebanyak lima angkatan, PPTL mengadakan pendidikan sekolah Instruktur Terbang Layang. Instruktur terbang layang PPTL tersebar diseluruh Indonesia, kemudian membentuk dan melatih terbang layang pada tahun 1962 di Medan.
Untuk mengkoordinir perkumpulan-perkumpulan terbang layang pada waktu diselenggarakan POR AU tahun 1969 diputuskan gagasan untuk mengundang wakil-wakil perkumpulan olahraga di seluruh Indonesia, sehingga pada tanggal 2 April 1969 berhasil membentuk induk Organisasi yang kemudia disebur persatuan olahraga terbang layang seluruh indonesia yang disingkat PORTELASI. Pengurus besar Portelasi berhasil mem,asukan portelasi sebagai anggota KONI, pada PON ke VII tahun 1969 terbang layang dinyatakan nomor yang dilombakan.
Dengan semakin pesatnya olahraga dirgantara saat itu, maka sangat dirasakan perlunya dibentuk organisasi yang mengkoordinir kegiatan olahraga dirgantara, yang meliputi Aeromodelling, terbang layang, terjun payang dan pesawat bermotor.
Atas prakarsa Marsekal Aried Riyadi selaku ketua PB PORTELASI pada tanggal 17 Januari 1972 telah dibentuk federasi aero Sport Indonesia disingkat FASI. Untuk lebih memantapkan oranisasi Fasi, pada tanggal 15 Juli 1978 diselenggarakan musyawarah Fasi luar biasa di Bandung, dan sejak saat itu ketua umum pengurus besar fasi akan dijabat oleh pimpinan tertinggi TNI AU/ Kasau.
Sejalan dengan perkembangan pusat pendidikan terbang layang (PPTL) pada tahun 1981 mengalami perubahan menjadi Skuadron pendidikan 011 dibawak Komando Pendidikan TNI Angkatan Udara, kemudia pada tahun 1987 pendidikan terbang layang pindah dari lanud Adi Soemarmo Solo ke Lanud Kalijati, selama di Lanud Kalijati pendidikan terbang layang mengalami MOB ke lanud Tasikmalaya pada tahu 1991 dan kembali lagi ke lanud kalijati yang sekarang menjadi lanud Suryadarma
Keberadaan Pusdikterla di Kalijati dimulai pada tanggal 19 Agustus 1987 ketika Pangkalan TNI AU (Lanud) saat itu bernama Lanud Kalijati secara resmi dipilih oleh pimpinan TNI AU dan Pengurus Persatuan Olah Raga Terbang Layang Seluruh Indonesia (Portelasi) untuk menjadi lokasi baru Pusat Pendidikan Terbang Layang (Pusdikterla) menggantikan lokasi lama yang berada di Lanud Adi Sumarmo, Solo.
Alasan kepindahannya adalah area latihan di daerah Pacitan telah dipenuhi rumah-rumah penduduk, pohon tinggi dan banyaknya kabel listrik di udara, sehingga menggangu penerbangan. Sedangkan lokasi baru dipilih karena terdapat sarana prasarana penerbangan yang memenuhi syarat seperti landasan dan hanggar pesawat, pendukung kegiatan penerbangan juga sumber daya manusianya.
oleh Sebelum di Lanud Kalijati, Pusdikterla yang awalnya bernama PPTL (Pusat Pendidikan Terbang Layang) mengalami beberapa kali pemindahan lokasi. Lokasi pertama sebagai yang adalah Awalnya pendidikan angkatan I terbang layang tahun 1958 dilaksanakan di yang berhasil meluluskan 16 orang.
Mengingat kesibukan penerbangan di Lanud Adi Sutjipto, pada tahun 1959 Pusdikterla dipindahkan ke Selanjutnya pendidikan terbang layang angkatan ke II-IV dilaksanakan atas kerjasama TNI AU dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan siswanya para guru olah raga dari berbagai daerah yang dididik menjadi Instruktur Terbang Layang. Setelah lulus mereka bertugas melatih dan membuka Klub Terbang Layang di daerahnya masing-masing.
Namun lulusan tersebut dianggap kurang cepat berkembang, maka pada tahun 1962 TNI AU kembali mendidik Instruktur terbang layang angkatan ke V,siswanya guru-guru olah raga lulusan SGPD selama dua tahun, setelah lulus pendidikan mereka diangkat sebagai anggota militer sukarela dengan pangkat Letnan Muda Udara II. Para Instruktur terbang Layang angkatan ke V tersebut jumlahnya 17 orang.
Setelah angkatan ke-V, PPTL berganti nama menjadi Sistela (Sekolah Instruktur Terbang Layang). Dalam penyelenggaraan Pekan Olah Raga TNI AU (POR AU) tahun 1969, tercetus gagasan dari para penyelenggara untuk pengembangan olah raga terbang layang dalam satu induk organisasi. Komandan Jenderal Komando Pendidikan TNI AU (Danjen Kodikau) Marsekal Pertama TNI Kardono kemudian yang menindaklanjutinya melalui pertemuan wakil perkumpulan Terbang Layang seluruh Indonesia. Hasilnya pada, 1 April 1969 berhasil dibentuk Persatuan Olah Raga Terbang Layang Seluruh Indonesia (Portelasi).
Antara tahun 1978 - 1979 pesawat-pesawat Glider untuk kegiatan terbang layang dipindahkan ke hanggar Aviantara di Lanud Sulaiman, Bandung namun kondisinya sudah rusak berat. Selanjutnya pada tahun 1984 – 1985 pesawat yang rusak dibawa ke Skatek 021 Lanud Halim Perdana Kusuma untuk diperbaiki. Kemudian pada tahun 1985 – 1987, dikirim ke Pusdikterla Lanud Kalijati (berganti menjadi Lanud Suryadarma tahun 2001) ditepatkan di Hanggar C.
Berita Terkait
- COLIBRI EC HL-1211 MENGALAMI CRASH LANDING DAN TERBAKAR
- PIA ARDHYA GARINI KALIJATI BAHAS TENTANG PENYAKIT KANKER
- PROFIL SISWA TERLA BERPRESTASI : SERDA DANIS, SISWA PERTAMA YANG MAMPU TERBANG SOLO
- SKADRON UDARA 7 MERAYAKAN ULTAH KE 45 DIISI DENGAN MELAKUKAN KEGIATAN RELIGIUS
- Teruskan Tradisi, Tiga Bersaudara Geluti Olahraga Terbang Layang
















