Lanud Suryadarma
Lanud Suryadarma Merupakan Lanud Pertama dan Tertua di Indonesia
Lanud Suryadarma Merupakan Lanud Pertama dan Tertua di Indonesia
Lanud Suryadarma awalnya bernama Pangkalan Udara Kalijati didirikan Belanda pada Mei 1914 untuk melengkapi angkatan perang Belanda (KNIL) pada aspek pertahanan udaranya. Pemilihan Kalijati untuk pangkalan udara pertama Belanda berdasarkan survei Panglima Tentara KNIL Letnan Jenderal H. ter Poorten karena beberapa hal seperti iklim, cuaca dan angin cenderung stabil sehingga aman untuk penerbangan, secara geografis tidak terlalu jauh dari Batavia sehingga dapat memberikan bantuan operasi udara apabila dibutuhkan dan lokasinya relatif terlindungi oleh kondisi alam karena terletak di pedalaman.
Karena dalam rintisan maka segala sesuatunya darurat seperti nama satuannya Proef Vlieg Afdeling/PVA (Bagian Penerbangan Percobaan). Demikian juga pesawat udaranya berupa dua unit pesawat amphibi Glen Martin buatan Amerika Serikat yang tidak dapat mendarat di tanah terpaksa harus diberi roda tambahan agar bisa mendarat. Di samping itu, kondisi landasan Pangkalan Udara Kalijati juga sederhana, berupa lapangan rumput dengan bangsal-bangsal untuk pesawat yang terbuat dari bambu. Namun demikian, sejak itu secara bertahap mulai dirintis pembangunan sarana prasarana yang lebih permanen.
Pada 1917 kegiatan PVA bertambah dengan datangnya 8 Pesawat Pengintai dan 4 Pesawat Latih. Keempat Pesawat Latih itu digunakan untuk kegiatan pendidikan bagi calon pilot/penerbang, sehingga pembangunan sarana prasarana pendidikan pilot di Pangkalan Udara Kalijati mulai dikerjakan dengan intensif. Hal ini bagian dari persiapan militer Belanda untuk menghadapi perang dunia II setelah terjadinya Perang Dunia I pada 1914-1918.
Keberadaan Pangkalan Udara Kalijati selama 28 tahun (1914-1942) di bawah Belanda mulai nampak kemajuannya ditandai telah banyaknya bangunan fisik yang dibangun sehingga saat Tentara Jepang merebutnya, mereka tinggal menggunakannya. Beberapa bangunan yang terawat baik hingga kini antara lain Hanggar A terletak di Ring I (Ring I saat itu ditembok keliling berbentuk segilima tinggi hampir 3 meter berdiameter kurang lebih 300 meter, sebagian bekas tembok masih berdiri) kini digunakan Hanggar Pesawat Polter Pilatus dari Satuan Udara Pertanian, Hanggar B (setelah direhab) dipakai untuk Hanggar Helikopter Bell 47 G Soloy, Hanggar C untuk Museum Amerta Dirgantara Mandala dan Pusat Pendidikan Terbang Layang, Hanggar D untuk Skadron Pendidikan 303, sedangkan bekas Gedung Sekolah Penerbang Belanda saat ini digunakan Markas Wingdiktekkal, juga kompleks-kompleks perumahan dinas salah satunya untuk Museum Rumah Sejarah Kalijati dan bangunan lainnya.
Mengingat berharganya Lanud Kalijati bagi Belanda, setelah Jepang meninggalkan Indonesia 1945 beberapa Tentara Udara Belanda kembali ke Kalijati sebagai teknisi yang bertahan hingga penyerahan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949. Enam bulan kemudian pada 27 Juni 1950 semua fasilitas militer Belanda di Pangkalan Kalijati diserahkan ke AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Sejak itu penataan fasilitas dan pendayagunaan sarana dilaksanakan diantaranya pembentukan kesatuan pendidikan 001/sekolah penerbang untuk tingkat dasar dan lanjutan, juga kesatuan pendidikan 002 dan 007 yang melaksanakan pendidikan Pengatur Lalu Lintas Udara (PLLU), Meteorologi, Perhubungan, Telegrapis dan Sekolah Setir Mobil, cikal-bakal satuan pendidikan Wingdiktekkal. Sejak 1960 sekolah penerbang dipindahkan ke Yogyakarta disatukan di tingkat akademi.
Pemindahan sekolah penerbang tersebut, menjadikan Lanud Kalijati sepi dari kegiatan penerbangan, tapi ramai oleh siswa TNI AU dari korps teknik dan pembekalan yang bersekolah di Wingdiktekkal sebagai satuan samping. Kesunyian dari kegiatan penerbangan berubah pada April 1989, saat Skadron Udara 7 sebagai skadron helikopter jenis khusus dan pendidikan pilot helikopter pindah home basenya dari Lanud Atang Senjaya, Bogor ke Kalijati. Sehingga sejak Januari 1990 Skadron Udara 7 telah menjadi satuan bawah Lanud Kalijati.
Perkembangan berikutnya nama Lanud Kalijati diganti dengan Lanud Suryadarma pada 7 September 2001 dengan alasan untuk menghargai jasa-jasa Bapak AURI Marsekal TNI S. Suryadarma sebagai pelopor AURI yang pernah sekolah penerbang di Kalijati. Peresmian penggantian nama Lanud tersebut dilaksanakan dalam suatu upacara militer dipimpin KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan, dihadiri ahli waris almarhum Marsekal TNI (Purn.) S. Suryadarma.
Kini sejak 1946 Lanud Suryadarma telah berganti komandan sebanyak 33 kali dan pada 2009 ini Lanud Suryadarma di bawah kepemimpinanan Kolonel Pnb Widiantoro (Alumni AAU 1984) menjabat sejak Mei 2009.
Berita Terkait
- COLIBRI EC HL-1211 MENGALAMI CRASH LANDING DAN TERBAKAR
- PIA ARDHYA GARINI KALIJATI BAHAS TENTANG PENYAKIT KANKER
- PROFIL SISWA TERLA BERPRESTASI : SERDA DANIS, SISWA PERTAMA YANG MAMPU TERBANG SOLO
- SKADRON UDARA 7 MERAYAKAN ULTAH KE 45 DIISI DENGAN MELAKUKAN KEGIATAN RELIGIUS
- Teruskan Tradisi, Tiga Bersaudara Geluti Olahraga Terbang Layang
















