Lanud Suryadarma
Lanud Suryadarma Cikal Bakal sekolah Penerbang Militer di Indonesia
Lanud Suryadarma Cikal Bakal sekolah Penerbang Militer di Indonesia
Kedatangan empat pesawat latih Belanda di Lanud Kalijati merupakan cikal-bakal bangsa Indonesia memiliki sekolah penerbang militer. Keempat pesawat tersebut awalnya digunakan mendidik penerbang baru tentara KNIL yang ada di Kalijati agar mampu mengawaki pesawat intai. Sekolah Penerbang (Vliegschool) tersebut hanya menerima siswa warga Belanda asli karena adanya politik diskriminasi yang tidak mengizinkan pribumi menjadi penerbang, karena penerbang merupakan profesi elite bagi Belanda. Setelah Vliegschool berjalan beberapa tahun, pada 1932 mulai menerima siswa pribumi namun dengan persyaratan yang ketat dan berat. Keadaan tersebut dialami oleh Letnan S. Suryadarma (Bapak AURI) ketika masih muda.
Karena cita-citanya yang kuat menjadi penerbang ia harus menjalani tiga kali tes untuk diterima sebagai siswa penerbang di Kalijati pada 1937. Selama enam bulan menjalani pendidikan dilanjutkan sekolah navigator dan lulus pada 1939. Selanjutnya ia menempuh pendidikan instruktur yang mengantarkannya menjadi instruktur di Sekolah Penerbang Kalijati. Beberapa warga pribumi lainnya yang lulus brevet penerbang tingkat atas, Adi Sutjipto dan Sambujo Hurip sedang brevet penerbang tingkat pertama Husein Sastranegara, Sulistyo dan H. Suyono.
Sementara itu dari segi perkembangan satuan yang membawahi Pangkalan Udara Kalijati juga mengalami perubahan. Nama Bagian Penerbangan Percobaan untuk pertama kalinya berubah menjadi Vliegafdeling karena terjadi perkembangan tugas. Pada 21 Agustus 1921 Vliegafdeling berganti lagi menjadi Luchtvaart Afdeling (LA) atau Bagian Penerbangan. Di bawah LA terdapat Vliegdienst (Dinas Terbang) mengurusi aktifitas penerbangan dan Technisedienst (Dinas Teknik) bertugas merawat mesin pesawat. Karena keberadaan LA makin berkembang dan dibutuhkan KNIL, pada 1 Januari 1940 berganti lagi menjadi Militaire Luchtvaartdiens/ML (Dinas Penerbangan Militer), dalam ML terdapat Sekolah Penerbang Perwira (Vliegschool) yang mendidik pilot pesawat dan Sekolah Pengintai (Warnemerschool) mendidik calon navigator.
Selanjutnya pada 1939, Belanda mulai memindahkan lokasi sekolah penerbang dan pengintai dari Kalijati ke Pangkalan Udara Andir, Bandung dan mengubah nama sekolahnya untuk digabungkan menjadi Vlieg en Warnemer School. Sejak itu aktifitas sekolah penerbang berada di Bandung, pada 1949 Pangkalan Udara Kalijati dijadikan kembali oleh AURI sebagai pusat pendidikan penerbang tingkat dasar dan lanjutan namun pada 1960 pendidikan penerbang dipindah ke Yogyakarta hingga kini.
Berita Terkait
- COLIBRI EC HL-1211 MENGALAMI CRASH LANDING DAN TERBAKAR
- PIA ARDHYA GARINI KALIJATI BAHAS TENTANG PENYAKIT KANKER
- PROFIL SISWA TERLA BERPRESTASI : SERDA DANIS, SISWA PERTAMA YANG MAMPU TERBANG SOLO
- SKADRON UDARA 7 MERAYAKAN ULTAH KE 45 DIISI DENGAN MELAKUKAN KEGIATAN RELIGIUS
- Teruskan Tradisi, Tiga Bersaudara Geluti Olahraga Terbang Layang
















