Lanud Suryadarma
Lanud Suryadarma Sebagai Candradimuka bagi Penerbang Helikopter TNI
Lanud Suryadarma Sebagai Candradimuka bagi Penerbang Helikopter TNI
Sejak Skadron Udara 7 bergabung dengan Lanud Kalijati pada 1990, tugas Skadron Udara 7 yang mengawaki 2 jenis pesawat Helikopter yaitu Bell 204 B Iroquois sebanyak 12 buah dan Bell 47 G Solooy sebanyak 12 buah selain mendukung kegiatan operasi udara juga mendidik calon penerbang helikopter. Pesawat latih yang digunakan adalah Helikopter Bell 47 G Solooy hasil modifikasi dari Bell 47 G 3 BI Sioux sejak 1984. Modifikasinya berupa mengganti engine piston AVCD lycoming AVCO TVD 43J enam silinder berbahan bakar avigas menjadi engine turbo prop allison 250C-20B berbahan bakar Avtur. Dengan modifikasi itu menjadikan Bell 47 G Solooy tetap mampu terbang, namun dari segi bentuk Bell 47 G Solooy cenderung sederhana yaitu hanya dua seat serta bagian belakangnya terkesan seperti pesawat yang belum jadi karena berwujud kerangka. Namun demikian Bell 47 G Solooy terbukti tangguh melatih calon pilot helikopter.
Dasar penyelenggaraan sekolah penerbang dengan Bell 47 G Solooy adalah instruksi KSAU pada Mei 1987 tentang penyelenggaraan pembinaan kesiapan operasi khusus dan pendidikan sekolah penerbang helikopter latih dasar bagi calon pilot helikopter TNI. Terdapat dua macam sumber siswa tiap tahunnya yaitu Sekolah Penerbang (Sekbang) PSDP (Prajurit Sukarela Dinas Pendek) program Markas Besar (Mabes) TNI, siswanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Sebelum ke Skadron Udara 7, siswa Sekbang PSDP telah menjalani proses seleksi lalu pendidikan dasar kemiliteran di Solo kemudian pendidikan penerbangan dasar di Yogyakarta. Selama enam bulan siswa
Sekbang PSDP digembleng melalui dua materi pendidikan yaitu bina kelas dan bina terbang. Setelah lulus mereka menyandang pangkat perwira, oleh Mabes TNI disalurkan ke Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Sumber kedua adalah Perwira Siswa lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU), sekolahnya dinamakan Kursus Pengenalan Terbang Pesawat Helikopter (KPTPH). Mereka merupakan perwira penerbang yang dijuruskan ke Pesawat Helikopter, sebelumnya juga menjalani pendidikan dasar penerbangan di Yogyakarta. Siswa KPTPH juga menjalani tahapan pendidikan bina kelas dan bina terbang, setelah lulus mereka disalurkan ke satuan helikopter di TNI AU.
Apabila ditengok ke belakang peran Skadron Udara 7 dalam pendidikan sekolah penerbang helikopter sebetulnya telah dirintis sejak 1978, di Lanud Atang Senjaya, Bogor dengan nama pendidikan Terbang Transisi. Namun sejak 1989 Skadron Udara 7 pindah ke Kalijati agar kegiatan latih dasar helikopter dapat berjalan lancar. Hal ini disebabkan di Lanud Atang Senjaya, Bogor volume kegiatan penerbangan cukup padat oleh dua skadron helikopter yaitu Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8.
Sejak dirintis 1978 hingga 2008 Skadron Udara 7 telah meluluskan sekitar 570 orang Pilot Helikopter. Selain prajurit TNI, pilot yang dididik sebelum 1999 juga terdapat siswa-siswa dari luar negeri dan Kepolisian Republik Indonesia. Prestasi tersebut patut disyukuri karena dengan helikopter modifikasi jenis Bell 47 G Solooy yang merupakan pesawat tua namun tangguh, para siswa berhasil melewati masa-masa pengemblengan di kawah candradimuka Skadron Udara 7, Lanud Suryadarma untuk menjadi Pilot Helikopter (Chopper) yang profesional.
Berita Terkait
- COLIBRI EC HL-1211 MENGALAMI CRASH LANDING DAN TERBAKAR
- PIA ARDHYA GARINI KALIJATI BAHAS TENTANG PENYAKIT KANKER
- PROFIL SISWA TERLA BERPRESTASI : SERDA DANIS, SISWA PERTAMA YANG MAMPU TERBANG SOLO
- SKADRON UDARA 7 MERAYAKAN ULTAH KE 45 DIISI DENGAN MELAKUKAN KEGIATAN RELIGIUS
- Teruskan Tradisi, Tiga Bersaudara Geluti Olahraga Terbang Layang
















